“Tangisan Niluh”

Terdiam duduk sendiri melihat jendela kamar yang selalu terbuka, Niluh panggilan akrabnya masih duduk lemas tak berdaya dengan penyakitnya yang kian lama kian menggerogoti tubuhnya tidak ada yang bisa dia kerjakan kecuali duduk di kursi malasnya dan tidur di tempat tidur yang sudah lama menemaninya selama 3 tahun. Semua organ tubuhnya seakan lumpuh dan dipenuhi coreng yang selalu basah dan bau anyir yang menyengat hidung, penyakit kusta yang dia derita sejak kurang lebih 3 tahun silam membawanya dalam sendirian dan keterpurukan. Hanya neneknya yang selalu setia menunggunya, dengan penuh kesabaran merawatnya. Nenek yang hari ini genap berusia 64 tahun tidak merasa bosan dan jijik merawat Niluh,dia tertegun mengingat ke dua orang tua niluh yang telah meninggal dunia karena lenyap tersapu gelombang dasyat pada tanggal 26 Desember 2 tahun silam,menginggalkan sejuta pertanyaan karena jazadnya sampai sekarang belum juga di temukan.

asd

Niluh masih tetap memandangi jendela kamarnya yang tetap selalu terbuka.Dia menangis lirih,Dia menghujad Tuhannya yang seakan tidak adil kepada dirinya,selalu memberikan siksaan terhadapnya dan keluarganya, mengambil orang-orang yang dicintainya, merenggut semua mimpi dan menghapus semua cita-citanya dengan penyakit aneh yang satu persatu menghilangkan organ tubuhnya.”Kenapa tidak kau bunuh saja aku,dari pada kau siksa aku seperti ini, hanya meninggalkan dua tangan yang kini sudah tidak berjari,membiarkan kaki yang busuk dan berbau sangat menyengat, menjadikan orang-orang jijik melihat ku. Kutukan apa yang telah kau berikan kepadaku..!!!” Niluh berbicara dalam hati,menghujad Tuhan yang tidak adil untuknya dengan kedua mata yang berkaca-kaca membasahi pipinya.

“Assalamualaikum.. ” Suara yang sangat akrab ditelinga Niluh memanggilnya,
Nenek datang dengan membawa sepiring bubur dan segelas air putih di atas nampan dan beberapa butir obat dari Rumah Sakit Khusus penderita Kusta.

“Aduh nduk.. kamu nangis lagi to?? Tanya nenek dengan penuh perhatian
Niluh hanya duduk terdiam memandangi neneknya
“Sudah lah nduk,jangan menangis lagi masih ada nenek disini merawat mu,memang penyakit kusta sangat susah obatnya,tapi dengan bantuan pak lurah dan pemerintah setempat pasti akan cepat mencari alternatifnya,yang penting Kita sabar dan selalu berikhtiar jgn lupa berdoa dan sholat yo wiis habis selesai makan sholat Dzuhur berjamah sama nenek ya nduk..” Dengan senyuman manis walau gigi yang sudah ompong nenek mengajak Niluh sholat berjamaah.

Dengan penuh perhatian suap demi suapan nenek menyuapi Niluh dengan penuh kesabaran,hingga suapan terakhir
“Alhamdulilah.. Sudah selesai makan siangnya,sekarang diminum obatnya ya cah ayu” Sambil membuka satu demi satu obatnya Nenek menyuapi Niluh dengan sangat hati-hati. Niluh hanya melihat neneknya yang sangat perhatian dan sabar merawatnya memberikan seluruh perhatian kepadanya. Niluh yang tidak dapat berbicara hanya meneteskan air mata menerima besarnya perhatian neneknya. Niluh berbisik dalam hati
“Akan kah kau panggil lagi kesisi-Mu, seorang yang saat ini menemaniku sekarang Ya Alloh!!…” Tangisan tak terbendung lagi,Niluh kembali menangis dengan sangat lirih.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. mmm..jd klimaksna lgs diawal ya?
    flashbackna psti mnarik,beib tunggu ya yah!!
    😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: